Panglima Perang Dunia II

History

PANGLIMA PERANG

Sejak masa lalu tatkala orang mulai mengenal peperangan yang terorganisasi, maka yang namanya pimpinan atau komandan atau panglima merupakan suatu kebutuhan, bahkan keharusan. Setiap peperangan pasti memerlukan pemegang komando atau commander untuk mengatur, mengarahkan, dan memimpin serangan maupun pertahanan. Karena itu tak heran apabila ada pameo yang intinya dalam peperangan tak ada prajurit yang jelek, yang ado hanyalah jenderal yang jelek.

U.S ArmyTERLUKA-Patton di Perancis tahun 1918. Ia ikut serta dalam Battle of Saint-Mihiel, September 1918, dan terluka oleh peluru senapan mesin. Foto: U.S Army

Dalam sejarah, catatan tertulis pertama dari suatu perang terpimpin adalah dari pertempuran di Megiddo, tahun 1469 SM. catatan ini secara khusus sudah menunjuk bahwa tentara Mesir yang dipimpin Fir’aun pendekar perang Tuthmosis mencapai kemenangan bukan hanya karena taktik bertempurnya yang bogus, tetapi juga berkat kemampuannya mengatur sistem komunikasi aba-aba di tengah berkecamuknya pertempuran. Tanga ada yang menentukan dan mengatur sistem tersebut, maka kemungkinan besar tentara Mesir tidak akan menang dalam pertempuran dengan musuh-musuhnya di Palestine Utara tersebut.

Perkembangan dari waktu ke waktu juga menunjukkan pemimpin dalam perang pun selalu berubah-ubah. Apabila dulunya para panglima langsung dipegang oleh para raja Iskandar Agung, Xerxes, Hannibal d1l), maka ketika zaman menganggap raja juga pimpinan erohanian atau imam, maka komandan perang digantikan orang lain. Biasanya raja menunjuk anggota keluarganya atau kawan dekatnya untuk mewakilinya menjadi panglima perang. Namun tatkala posisi panglima dinilai terlalu berisiko dalam pertempuran, maka kedudukannya di medan pertempuran pun dapat diwakilkan kepada orang-orang kepercayaannya. Kalau pun orang-orang ini belum mahir dalam memimpin tentara, maka mereka akan diajari seni berperang, Frederik Agung dari Prussia (1712-86) merupakan tokoh pembaharuan dalam bidang kemiliteran ini, termasuk antisipasinya terhadap konsep bahwa “perang adalah kepanja¬ngan dari diplomasi.” Meskipun pandangan dan tindakannya memodernkan kemiliteran, namun die sendiri sebagai raja masih suka memimpin sendiri tentaranya di medan perang melawan musuh-musuhnya seperti Austria, Russia, Perancis, dan Saxony.

Begitu pula salah satu pang-lima militer paling jenius da¬lam sejarah, Napoleon Bona¬parte, sewaktu telah menjadi kaiser Perancis pun masih memimpin sendiri peperangan di medan, termasuk petua¬langannya yang gagal ke Mos¬kwa serta pertempurannya yang terakhir di Waterloo. Na¬mun pada mesa-mesa itu, banyak jenderal serta laksa¬mana brilian yang muncul dan memimpin langsung pasukan di ajang pertempuran. Nama¬nama seperti Wallenstein, Suvarov, Nelson, Clive, Ney, von Moltke, Sherman, Bolivar, dan lain-lainnya berkibar dari berbagai medan peperangan. Mereka inilah jenderal yang bersama-sama tentaranya terjun masuk lumpur, bukan hanya memerintah dari tempat aman dan nyaman saja.

Masa depan?

Sampai masa Perang Perancis – Prussia tahun 1870, raja dan para pangeran masih memegang komando dan memimpin langsung pertempuran di lapangan, sesuai dengan pemikiran feodal waktu itu bahwa faktor keningratan merekalah yang mampu melaksanakan otoritas. Pangeran Ruprecht dari Bavaria yang memimpin salah satu Grup Tentara Jerman pada tahun 1918 adalah tinggalan terakhir dari sistem lama tadi. Padahal negara besar lain seperti AS dan Kerajaan Inggris waktu itu sudah lama meninggalkan paham seperti itu. Mereka merintis dan mengedepankan para pemimpin militer profesional untuk memimpin tentara mereka. Apa yang dijalankan mereka ini kemudian diikuti oleh semua negara modern lainnya. Sekalipun begitu, pernah timbul godaan di Inggris untuk kembali ke sistem feodal tatkala PM Churchill mengalami krisis pada pertengahan 1942, dengan keluarnya usul dari parlemen agar Duke of Gloucester diangkat sebagai panglima tertinggi.

Perkembangan kepemimpinan profesional yang memunculkan nama-nama besar sebagai greatest military commanders terus berlangsung hingga masa sekarang tatkala perang konvensional masih terjadi, seperti PD I dan II, Perang Korea, Perang Timur Tengah, dan Perang Vietnam. Nama-nama seperti Ludendorff, Von Mannerheim, Foch, Zhukov, Montgomery, Rommel, Manstein, Yamashita, Patton, Mac Arthur, Eisenhower, Guderian, Giap, Dayan, Schwarzkopf, dan lain-lain terpatri kuat dalam sejarah kemiliteran dunia. Mountbatten dalam PD II juga memperoleh tempat terhormat, tetapi ini memang dari kemampuan profesionalnya dan bukan karena kaftan dengan kebangsawanannya.

Mengingat sifat peperangan dewasa ini, apakah pada masa depan akan dihasilkan lagi nama-nama besar seperti pada masa¬masa lalu ? Apabila menilik sifat peperangan dewasa ini, maka sejauh peperangannya lebih merupakan konflik gerilya seperti yang terlihat di berbagai bagian dunia, termasuk di Irak dan Sri Lanka scat ini, maka tampaknya nama-nama besar tak akan ada lagi. Boleh jadi local military heroes tetap akan muncul seperti Che Guevara, tetapi mereka ini tidak lagi mengalami kesempatan seperti yang dilakoni para panglima pada masa lalu. Setidaknya mereka tidak lagi dapat menampilkan ke¬jeniusan dalam skala sebagaimana yang dikenyam para pendahulu. Sementara itu seandainya peperangan besar masa depan sampai dilakukan dengan senjata nuklir, maka dapat dipastikan tidak akan ada pemimpin besar militer yang akan dihasilkan. Sebab para panglima memimpin peperangan hanya dari ruang operasi dan tidak lagi bersama-sama prajuritnya mengendarai tank dan berkubang di medan perang.

Bermacam kriteria

Banyak ulasan mengenai siapa yang patut untuk dimasukkan sebagai greatest military leaders dalam sejarah. Buku biografi tentang mereka pun banyak diterbitkan, baik berupa biografi perorangan maupun kumpulan dari banyak figur ternama. Buku kumpulan biografi seperti itu cukup banyak meski dengan judul berlainan, seperti The War Lords, Masters of the Battlefields, The World’s Greatest Military Leaders, Generals ini Muddy Boots, A Historical Dictionary of Military Leaders, dan lain-lainnya. Tetapi yang menarik adalah perbedaan pandangan dari para penyusunnya, mengenai kriteria tokoh-to¬koh militeryangpantas mereka cantumkan dalam buku masing-masing. Pandangan subyektif tentu mengemuka. Tetapi figur yang pasti diterima bersama pun lebih banyak lagi. Karena itu apa yang diseleksi untuk Angkasa Koleksi edisi ini pun lebih didasarkan dari figur yang telah diterima umum sebagai the greatests, ditambah beberapa nama dari local heroes yang ada dalam sejarah nasional kita sendiri.

Kriteria para penulis atau sejarawan militer untuk menentukan the greatest bagi figur-figur militer tadi umumnya didasarkan berbagai unsur penilaian. Seperti apakah ukurannya hanya dilihat dari kesuksesan atau kejayaan sebagai panglima ? Kenyataannya tidaklah sesederhana itu, seperti terlihat pada contoh dua figur jenderal terhebat dalam sejarah, Napoleon Bonaparte dan Robert E. Lee. Mereka pada akhirnya tidak berjaya, malah gagal dan kalah dalam perang. Begitu pula ukuran pengalaman atau pun pendidikan dan latihan sebagai tentara profesional amat penting. Tetapi lihatlah contoh dalam sejarah, seperti Jeanne d’Arc atau pun Oliver Cromwell yang mencapai kemasyhuran karena kemenangan perang mereka, yang bahkan mengubah sejarah secara signifikan. Padahal mereka semula bukan militer, bahkan pada diri mereka tak pernah terpikirkan untuk memimpin tentara atau pun berperang serta menang.

Keberanian di tengah kancah pertempuran juga dihargai dan diperhitungkan dalam menilai panglima yang baik, karena ha itu akan menyemangati, bahkan menjad teladan bagi anak buahnya. George Arm strong Custer tidak disangkal adalah tip pemimpin militer pemberani tersebut, se hingga dalam Perang Saudara Amerika ter catat delapan kudanya pun sampai terkem tembakan musuh. Namun kemudian ” toh terkenalnya dalam sejarah adalah akibai bencana atas pasukannya dalam peristiwa Little Big Horn tahun 1876 tatkala berperang dengan orang Indian. Kepercayaan diri memang vital pada setiap jenderal yang baik dan hal itu pun sepenuhnya dimiliki oleo Custer, tetapi toh itu malah dianggap sebagai salah satu penyebab kejatuhan namanya.

Pada pihak lain, ada pula pemimpin militer yang dipuja dan dicintai anak buahnya, dan hal ini tentunya bagus karena akan memberi motivasi dan semangat Padahal di balik itu sebetulnya ada kekurangan yang melekat pada dirinya untuk menjadi pemimpin militer yang baik, seperti terjadi pada George McClellan, Panglima Tentara Potomac dalam perang saudara di AS. Anak buahnya begitu menyukainva dan memberi julukan kesayangan “Little Mac” baginya. Tetapi sesungguhnya dia memiliki sikap arogan, lamban, dan mudah gentar sehingga Presiders Lincoln kecewa berat terhadap dirinya sebagai pemimpin militer.

Ukuran kehebatan seseorang commander juga dapat dilihat dari kemauan dan keberanian untuk mencoba terus terhadap hal-hal yang rasanya tak mungkin, against all odds. Jenderal yang tercatat berhasil menunjukkan kemampuan itu antara lain George Washington dan Willem dari Orange, yang masing-masing akhirnya berhasil mengalahkan musuh-musuh lebih kuat karena sifat mereka yang ulet, tak mudah patch. Ada pula pemimpin militer yang terkenal karena kemampuannya untuk “main drama”, dengan mengeksploitasi keberhasilannya dalam pertempuran, sehingga menumbuhkan mitos terhadap dirinya, seperti yang terjadi pada Jenderal George Patton, Jr.

Ada pula penilaian bahwa panglima yang hebat adalah yang mampu bicara apa adanya, termasuk terhadap lawannya, sebagaimana ditunjukkan oleh tantangan panglima Sparta Leonidas terhadap Raja Xerxes dari Persia dalam pertempuran di Thermopylae yang terkenal itu. “Kalau kamu menginginkan ini, datanglah dan ambillah!” Memang, sesungguhnya menentukan ukuran good commanders begitu bervariasi, dan sering lebih tergantung pads penilaian subyektif. Karena itu tambahan kriteria pun menjadi semakin banyak, seperti keberanian bertanggung jawab terhadap kegagalan, kemampuan membuat keputusan secara cepat, tepat, dan mengeluarkan perintah yang singkat dan jelas, kepandaian memilih bawahan yang dapat diandalkan serta keyakinannya dalam memberi kepercayaan, dan,seterusnya.
Begitu banyak ukuran yang dapat diterapkan sehingga seorang pemimpin militer dapat dimasukkan sebagai the greatests, masters, warlords, dan lain-lainnya. Tetapi tidaklah mungkin segala kelebihan atau ukuran kebaikan tersebut dapat dianugerahkan kepada seorang tokoh militer betapa pun hebatnya dia dalam peperangan dan sejarah.

Namun setidaknya mereka-mereka inilah yang dinilai telah meraih sebagian dari berbagai kriteria tadi. “Mereka inilah parer jenderal yang berjuang di front bersama pasukannya, berdiri bersamasama mereka di antara desingan pelor dan siulan peluru meriam, serta menyaksikan teman-teman mereka jatuh dan coati…” begitulah penggambaran oleh Kol. Walter J. Boyne, seorangpensiunan perwira USAF yang jugs penulis kemiliteran terkenal

STORY HEROIK SEBUAH PASUKAN

Citizen Soldiers

Tentara Amerika Serikat dari Pantai Normandia ke Bulge sampai menyerahnya Jerman, 7 Juni 1944 – 7 Mei 1945

Tentara Sukarela (Citizen Soldiers) Karangan: Stephen E. Ambrose, Penulis buku D-Day dan Undaunted CourageTentara Sukarela (Citizen Soldiers) Karangan: Stephen E. Ambrose, Penulis buku D-Day dan Undaunted Courage

Satu tanda mata dari abad ke-20 yang paling dahsyat dan tak terlukiskan kengeriannya adalah Perang Dunia II. Adegan-adegan seperti di Neraka Dante seolah turun ke bumi. Betapa Amerika dipaksa Hitler untuk mengerahkan pemuda-pemuda terbaiknya sampai jutaan orang, bertarung melawan pemuda-pemuda terbaik Jerman, dengan jumlah korban di kedua belah pihak yang begitu “menakutkan”.

Meskipun buku ini mencakup pula informasi tentang strategi para Jenderal Sekutu, terutama sekali hubungan yang kadang memburuk antara Eisenhower dan Montgomery (Jenderal Inggris) dan persaingan Bradley – Patton – Hodges ‑ Montgomery —yang cukup mengasyikkan bagi pembaca untuk mengikuti gambaran besarnya— namun buku ini bukanlah tentang para jenderal, melainkan tentang sepak terjang tentara sukarela yang terdiri dari anak-anak muda Amerika (Citizen Soldiers), yang terkenal dengan sebutan “GI” (prajurit tantama, kopral, sersan, letnan hingga kapten) di ETO (European Theater of Operation = Medan Perang Eropa) dalam Perang Dunia II, yang dimulai pada D-Day, 6 Juni 1944, dan berakhir dengan menyerahnya Jerman sebelas bulan kemudian: siapa mereka, bagaimana mereka bertempur, kenapa mereka bertempur, apa yang mereka derita, dan bagaimana mereka meraih kemenangan.

“Tugas kita ialah menghancurkan mesin perang Jerman, mengikis kesewenang-wenangan NAZI terhadap bangsa‑bangsa Eropa yang secara buas ditaklukkannya, Berta keamanan diri kita dalam sebuah dunia yang bebas…
Keberhasilan pendudukan kita atas Jerman hanya dapat dinilai lima puluh tahun lagi. Jika Jerman pada saat nanti dapat menjadi sebuah negeri dengan sistem demokrasi yang stabil dan makmur, maka itu artinya kita sudah berhasil.”

Jenderal Besar Dwight D. Eisenhower
Panglima Tertinggi Sekutu di European Theater of Operation (ETO)
Perintah Harian 6 Juni 1944 dan Rapat Staf Juni 1945yang terlibat di dalamnya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s